Senin, 12 November 2012


PERESMIAN KLINIK PK. HEPHATA

Berawal dari sebuah perbincangan yang melahirkan sebuah harapan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup para difabel. Harapan bahwa suatu saat di Hephata akan berdiri sebuah klinik yang melayani komunitas Hephata dan masyarakat sekitarnya dalam bidang kesehatan. Doa dan usaha pun ditingkatkan untuk mencapai harapan tersebut. Jalinan kasih dari “alumni Yayasan Soposurung – SMAN 2 Balige” membuka kemungkinan untuk itu. Alumni Yasop membantu Hephata dalam penyediaan dana dan daya mulai dari perlengkapan klinik sampai obat-obatan.  Pada 12 Juli 2012 klien dan staf Hephata beserta beberapa perwakilan alumni Yasob bersama-sama meresmikan klinik yang telah didirikan di lingkungan Hephata. Acara peresmian ini turut dihadiri oleh Pdt. Nelson Siregar yang saat itu masih menjabat kepala Departemen Diakonia HKBP beserta beberapa orang stafnya. Acara peresmian diawali dengan ibadah untuk mengucap syukur kepada Tuhan dan meneguhkan tekad dalam kesungguhan kerjasama supaya dijalankan dalam terang kehendak Tuhan. Kegembiraan pada acara peresmian klinik semakin dilengkapi dengan “makan siang bersama” di ruang pertemuan. Hidangan yang sederhana tidak mengurangi kegembiraan siang itu, sebab disediakan dengan kasih dan hati yang tulus.

Memang hingga sekarang klinik tersebut belum dapat beroperasi, tetapi diharapkan dalam waktu yang tidak akan lama lagi klinik akan dapat beroperasi memberikan pelayanan kesehatan bagi komunitas Hephata dan masyarakat di sekitar. (RJS)

PEMBUATAN KOMPOS DARI OLAHAN ECENG GONDOK

“Saat memasuki era pembangunan pada tahun 70-an, dalam upaya mengenjot produksi yang berlipat ganda sesuai dengan ideologi pembangunan yang menggerakkan pertumbuhan ekonomi. Maka berbagai upaya dilakukan dengan segala cara termasuk mengeksploitasi, mengeruk sumber daya dari perut bumi. Demikian dalam upaya meningkatkan produksi di bidang pertanian, perkebunan, perikanan, segala upaya juga dilakukan. Di bidang pertanian diperkenalkan pemakaian pupuk pestisida kimiawi untuk membasmi hama serta membantu pertumbuhan tanaman. Sepuluh tahun pertama hasilnya memang sangat nyata dimana produksi tanaman mulai melimpah. Kebutuhan pangan dalam negeri dinyatakan sangat cukup, bahkan Indonesia menerima penghargaan Internasional sebagai negara bebas kelaparan dan memiliki ketahanan pangan yang menakjubkan. Namun, bersamaan dengan pertumbuhan tersebut, di awal tahun 80-an juga sudah mulai dirasakan dampak negatifnya. Berbagai kajian mulai menunjukkan bahwa eksploitasi alam dengan menggunakan segala cara yang bersifat teknologi canggih dan mengandung unsur kimiawi banyak menuai masalah pengrusakan terhadap lingkungan khususnya pada tanah…” demikian pemaparan Pdt Reinjustin Gultom dalam bukunya yang berjudul “KOMPOS (Tehnik & Cara Membuat Kompos dari Sumber Daya Lokal)”.

Saat tanah merintih karena tercemar oleh banyaknya pemakaian pupuk pestisida, Panti Karya Hephata turut ambil bagian mengurangi rintihan tersebut. Hephata berusaha mempraktekkan pola pertanian yang selaras dengan alam. Salah satu caranya adalah mengurangi (menghilangkan) penggunaan pupuk pestisida dan menggantikannya dengan pupuk kompos. Disamping dapat mengurangi kerusakan tanah, tanaman yang dirawat dengan penggunaan kompos terbukti lebih bersahabat dengan kesehatan manusia. Ada banyak sumber daya alam yang dapat dijadikan pupuk kompos. Kali ini, pada 11 Juli 2012 Hephata mempraktekkan pembuatan kompos dari olahan eceng gondok. Kegiatan ini dilakukan atas kerjasama dengan alumni Yayasan Soposurung dan mahasiswa serta dosen dari Pendidikan Diakones Balige. Pimpinan biro Pengembangan Masyarakat (Pengmasy) HKBP, Pdt. Reinjustin Gultom menjadi pembina dalam kegiatan ini.

Eceng gondok adalah gulma yang hidup di air dangkal dengan perkembangbiakan yang sangat pesat. Ada beberapa dampak negatif yang akan terjadi bila eceng gondok dibiarkan begitu saja, yakni: menurunkan jumlah cahaya yang masuk ke dalam perairan sehingga menyebabkan penurunan tingkat kelarutan oksigen di dalam air; tumbuhan eceng gondok yang sudah mati akan turun ke dasar perairan sehingga mempercepat proses pendangkalan, meningkatkan habitat bagi vektor penyakit pada manusia, menurunkan nilai estetika lingkungan perairan, dsb. Pembuatan kompos dari eceng gondok ini akan sangat bermanfaat bagi pertanian di samping sebagai usaha untuk menghindari dampak negatif sebagaimana diuraikan di atas.

Saat ini Hephata berusaha meningkatkan sektor pertanian, dengan harapan bahwa sektor ini dapat menjadi tempat pembinaan karya kepada klien. Tentu saja setiap klien di Hephata memiliki minat dan kecintaan yang beragam. Dalam hal inilah Hephata bertanggungjawab menolong mereka untuk berkembang di bidang yang masing-masing mereka cintai dan minati. Beberapa di antara mereka memiliki minat terhadap bidang pertanian, yakni Juventus Simatupang dan Anto Silalahi. Merekalah yang dilibatkan dalam pembinaan karya pertanian, termasuk dalam pembelajaran pembuatan kompos dari olahan eceng gondok ini.  Saat ini hasil dari pembelajaran pertama telah dapat digunakan untuk menyuburkan lahan tanah pertanian Hephata. Proses pembuatan kompos dari olahan eceng gondok ini akan menjadi agenda tetap Hephata.

Kamis, 08 November 2012

JAMSOSTEK UNTUK PK HEPHATA 

Wajah kemiskinan terlihat begitu nyata pada kelompok manusia tertentu. Seseorang kadang-kadang harus mengalami berbagai bentuk penderitaan konkrit dalam hidupnya; fisik (sakit), ekonomi (lapar), sosial (tersingkir dari masyarakat), politik (tertindas), religius (dianggap berdosa). Kemiskinan ini merupakan situasi malang yang seringkali membuat tidak ada pilihan selain pasrah pada “nasib”. Inilah situasi yang masih terjadi dan dialami dalam kehidupan para difabel (different ability).
Panti Karya Hephata menghayati dan memaknai bahwa para difabel berhak atas kesehatan dan kesejahteraan hidup karena setiap orang adalah gambar dan rupa Allah. Pemahaman ini tentunya lahir dari buah iman akan cinta kasih Allah yang terus-menerus bergerak menumbuhkan rasa solidaritas dan kepedulian pada para difabel. Wajah kemiskinan yang konkrit pada kehidupan para difabel itu kini harus diupayakan  penanggulangannya dengan memberikan perhatian khusus. ”Memberikan jaminan kesehatan dan kesejahteraan hidup mereka” adalah salah satu wujud dari perhatian tersebut. Para difabel sebenarnya telah sungguh-sungguh berjuang atas diri mereka dan kelangsungan hidupnya sebagai sebuah anugerah dari Tuhan, tetapi akankah perjuangan mereka terabaikan oleh karena stigma buruk dari masyarakat tentang diri mereka yang sangat ironis yakni kurangnya penerimaan, kesempatan dan keberpihakan, salah satunya dalam bentuk kesehatan dan kesejahteraan hidup mereka? Oleh karena itu, Hephata berencana untuk mengikutsertakan klien dalam asuransi kesehatan Jamsostek yang akan membantu menjamin kesehatan para klien dan membantu Hephata dalam penanganan biaya kesehatan mereka sehingga wajah kemiskinan para difabel berangsur pudar dari kehidupan mereka.
Pada 11 Juli 2012, Hephata telah menjalin kerjasama dengan pihak Jamsostek cabang Pematangsiantar dalam penjelasan singkat tata cara pengajuan jaminan Jamsostek dan contoh perhitungan iuran program Jamsostek. Pertemuan ini dihadiri pimpinan Hephata Pdt. Osten Matondang, para klien dan staf PK Hephata, beberapa dosen dan mahasiswi Pendidikan Diakones dan Pdt. Nelson Siregar S.Th(mantan kadep Diakonia HKBP) bersama beberapa stafnya. Dalam pertemuan ini pembina dari Jamsostek cabang Pematangsiantar terbuka untuk membantu pendaftaran bagi klien dan staf Hephata. Sambutan kerjasama yang hangat ini merupakan suatu gambaran baru saatnya para difabel memiliki kesempatan yang sama untuk kesejahteraan hidup dan kesehatannya. Untuk itu, setiap peserta yang akan mengikuti program Jamsostek dikenai rincian biaya yang akan dikeluarkan Hephata setiap bulan Rp. 140.000, dengan rincian;



· Iuran Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK)/bulan/org= Rp 2.880-
      (0,24%xRp 1.200.000,-)
· Iuran Jaminan Hari Tua (JHT)/bulan/org=Rp 68.400,-
      (5,7%xRp. 1.200.000,-)
· Iuran Jaminan Kematian (JK)/bulan/org= Rp. 3.600,-
      (0,3%x Rp 1.200.000,-)
· Iuran Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK)/bulan/org= Rp. 60.000
      (3%x1.000.000,-)

Kiranya terbukalah hati setiap pembaca untuk memberikan perhatian bagi para difabel sebagai bentuk penerimaan akan kesejahteraan dan kesehatan mereka. Semakin nyatalah kiranya kasih persaudaraan yang tidak pernah membedakan dalam solidaritas dan rasa peduli  sebagaimana Kristus telah mengawali perjumpaan kasih itu terlebih dahulu. Untuk itu Hephata memohon dukungan dan doa dari setiap pihak dalam mewujudnyatakan kasih dan kepeduliaannya dengan berbuat untuk para difabel dalam program “Jamsostek untuk Hephata”.


(JLS)



Rabu, 05 September 2012

Aku bersama YANG LAIN

Imago Dei

Sajak cipta hadir di bumi dengan karya tanpa cela
Menjadikan yang fana sebagai Imago Dei Ajak bumi bersuka ria
YANG LAIN melihat semuanya itu baik..

Cipta berkarya dan berlalu segera, namun YANG LAIN tetap ada
Apa yang dilihat mata, dirasa jiwa, dibuat akal budi menjadi cita menghilangkan nelangsa
YANG LAIN melihat semuanya sempurna..

Cipta..
Melihat melalui hati melayani melalui iman
Sungguh, dunia pun menjadi lebih berarti
YANG LAIN pun berbangga melihat integritas yang fana
YANG LAIN pun bahagia suasana surga turun ke bumi

Sungguh berbangga menjadi aku (diffabel) yang selalu berada bersama YANG LAIN
Sungguh bersuka menjadi aku (diffabel) yang selalu cinta bersama YANG LAIN
sang cipta yang fana berkarya menceritakan suka untuk dan bersama YANG LAIN
"Hidup Demi Kristus Bagi Semua"
(psalmn 73:28)


Aku bersama YANG LAIN . . . YANG LAIN . . . YANG LAIN . . .

Selasa, 26 Juni 2012

Cinta Akan Tuhan Terwujud dalam Cinta kepada Diffabel

Pilihan cinta kasih mendahulukan kaum diffabel. Hal ini berakar daripada Allah sendiri. Pilihan Allah dalam mendahulukan kaum  diffabel adalah salah satu perwujudan Kerajaan Allah di dunia ini. Secara biblis  dikatakan bahwa marginalisasi merupakan skandal yang tidak sesuai dengan martabat manusia dan bertentangan dengan  kehendak Allah.  Realitas dari diffabel adalah kematian, terjerat dalam situasi yang malang, tanpa pilihan selain pasrah pada “nasib” yang ada. Kaum yang terlupakan dengan segala permasalahan-permasalahannya.


Lilis Rajagukguk (netra)
Juara Harapan 1 Vokal Solo Se-Provinsi Sumatera Utara
Allah tidak menginginkan manusia hidup di dalam marginalisasi dan penderitaan, sebab pada awalnya Allah menciptakan dunia ini sungguh amat baik (Kej. 1:25). Dalam Yohanes 9:1-3 dikatakan: “waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya. Murid-muridNya bertanya kepadaNya, Rabi siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta? Jawab Yesus; Bukan dia dan bukan juga orang tuanya tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.”. Alkitab menggambarkan tentang keberpihakan Allah terhadap kaum yang termarginal termasuk para diffabel, bahwa karya Allah terjadi dalam sejarah manusia. “Pilihan mendahulukan kaum yang terpinggirkan merupakan opsi Theosentris menunjukkan bahwa dengan datangnya Kerajaan Allah, maka terjadilah perubahan dan transformasi.

Kerajaan Allah merupakan tema yang sentral dari proklamasi yang dibawa oleh Yesus (Mrk. 1:15; 9;1; Mat. 11:12;Luk. 10:11; Luk. 11:2). Sikap serupa yang Yesus lakukan ialah Ia merendahkan diri-Nya di kayu salib dihukum mati, untuk kepentingan persamaan derajat dan kasih antar manusia, karena Ia menghayati hidupnya dalam perspektif  kasih yang berpihak pada kaum miskin dan orang yang disisihkan dalam sebuah masyarakat. Tentu saja pilihan Yesus terhadap gaya hidup miskin bukan karena kemiskinan (material) itu ideal, tetapi demi solidaritas dengan kaum miskin dan demi pembebasan manusia. Kematian Yesus di kayu salib juga merupakan konsekuensi perjuangan-Nya demi keadilan, demi proklamasi Kerajaan Allah dan solidaritas dengan semua.

Fakta ini merupakan tantangan bagi diffabel untuk menjadi subjek dalam sejarahnya, agar mereka menemukan realitas kehidupan yang sesungguhnya bahwa Allah berpihak pada mereka dalam mendatangkan damai sejahtera. Kerajaan Allah menjadi tujuan orang beriman kristiani sekaligus anugerah dan tuntutan. Anugerah kasih Allah tak terpisahkan dari tuntutan atas perjuangan manusia. Anugerah keselamatan mengimplikasikan usaha manusia. Oleh karena itu para diffabel akan mencetak sejarah jika ada orang yang dengan sungguh bersedia hidup dan berjuang bersama mereka.

Mendahulukan para diffabel tidak berarti menyingkirkan golongan lain tetapi mengundang semua orang terlibat dalam gerak bersama kaum diffabel untuk membangun masyarakat yang adil dan bersaudara. Diperlukanlah suatu sikap hormat terhadap perspektif hidup orang diffabel dan bukan memaksa mereka mengikuti kategori-kategori di luar dari mereka. Dengan demikian, setiap orang tidak lagi hanya cenderung memberi belas kasihan pada para diffabel pada waktu-waktu tertentu tanpa terlibat dan melibatkan kehidupan diffabel itu sendiri dalam berbagai bentuk dan cara dengan berkesinambungan. Oleh karena itu perjumpaan dengan Yesus merupakan perjumpaan perubahan hidup untuk dapat mewujudkan impian PK Hephata yaitu  “HIDUP DEMI KRISTUS BAGI SEMUA”.

CPdt. Jetty Samosir, STh
Unit Kesehatan dan Gizi Anak Hephata

Minggu, 13 Mei 2012

Penyandang Disabilitas dan Diffabilitas

Dari sebuah pernyataan muncul pemahaman, dan dari pemahaman muncul tindakan. Hal ini menjadi sesuatu yang esensial dalam sebuah pelayanan, terlebih pelayanan kepada orang-orang yang berkebutuhan khusus. Maksudnya adalah jangan sampai karena pernyataan yang kurang tepat, maka pemahaman dan tindakan pelayanan pun menjadi kurang tepat juga.

Penggunaan istilah yang dikenakan kepada orang berkebutuhan khusus tidak terlalu berdampak besar bagi Hephata dalam melayani. Namun hal ini perlu dikritisi agar pemahaman pelayanan Hephata dapat lebih tepat sasaran lagi. Penyandang Disabilitas dan Diffabel. Penulis akan coba menjelaskan kedua istilah ini secara etimologis.

Disabilitas berangkat dari kata disability (red: inggris) yang berarti physical or mental condition that disables. Kondisi mental dan fisik yang disables, sedang disable itu sendiri memiliki arti injure or affect somebody permanently so that they cannot walk or use a part of their body. Dari pernyataan ini jelas bahwa disabilitas memiliki arti ada sebuah penurunan/ pendegradasian kemampuan atau nilai dari yang awalnya baik, secara fisik maupun mental seseorang karena kecelakaan atau sesuatu.

Memang dalam bahasa inggris belum ada akronim dari different ability, namun istilah diffabel ini tetap dipergunakan untuk mempermudah seseorang yang mendengarnya kemudian mengingatnya. Different memiliki arti not the same as somebody or something, sedangkan ability memiliki arti skill or power. Jadi jika ini digabung maka artinya adalah sesuatu atau seseorang yang memiliki kemampuan atau kekuatan yang berbeda satu dengan yang lainnya.

Dari dua istilah di atas secara esensial sangat berbeda padahal istilah ini ditujukan kepada pihak yang sama yaitu orang-orang yang berkebutuhan khusus. Disabilitas penekanannya kepada sebuah pendegradasian/ penurunan kualitas/ nilai seseorang karena sesuatu, sedangkan diffabel penekanannya kepada  pemahaman bahwa memang pada dasarnya setiap manusia memiliki kemampuan atau kekuatan yang berbeda satu dengan yang lain.

Menurut penelitian, user atau pengguna narkoba pun masuk kategori penyandang disabilitas. Karena efek negatif dari narkoba maka ada penurunan kualitas/ nilai dari fisik dan mental dari orang tersebut. Dengan demikian para user juga perlu mendapatkan pelayanan dari panti-panti rehabilitasi bagi para penyandang disabilitas.

Secara kronologis peristiwa 2 istilah ini juga bisa diperbandingkan. Untuk disabiitas penekanan kronologis peristiwanya kepada kejadian setelah dilahirkan, bisa karena kecelakaan, narkoba, keracunan, penyakit keras, dan sebagainya, sedangkan untuk diffabel juga mencakup kronologis peristiwa sebelum dilahirkan. Seseorang bisa menjadi diffabel karena kondisi kehamilan yang kurang baik, proses kelahiran yang baik ataupun pasca melahirkan yang kurang baik.

Tidak mudah memang memahami 2 istilah ini, namun bagi penulis ini perlu ditanggapi lebih dalam untuk pelayanan Hephata. Dengan demikian pelayanan yang diberikan menjadi tepat karena pemahaman akan pihak yang dilayani juga tepat. Hal ini dikarenakan yang dilayani Hephata adalah manusia ciptaan Tuhan dengan segala keberadaannya. Minimal dari pemahaman yang lebih baik dapat muncul tindakan pelayanan yang lebih baik juga.

Apa yang dilakukan Hephata beberapa waktu terakhir sampai saat ini, mencoba menjadikan orang-orang berkebutuhan khusus yang dilayani menjadi manusia seutuhnya. Menjadi manusia yang berdaya secara mandiri, holistik dan inklusif. Bukan sebuah wacana namun ini sudah dilaksanakan dalam setiap programnya.

Dengan keyakinan bahwa Tuhan punya rencana atas setiap ciptaan-Nya, maka Hephata mencoba melakukan pergerakan dengan pemahaman bahwa sekalipun manusia memiliki keterbatasan secara fisik maupun mental, namun jika terus didampingi, dibina dan diberdayakan maka keterbatasan itu tidak menjadi kendala dalam berkarya dan berbuat sesuatu. Terbukti kenyataan di lapangan, seorang yang retardasi mental berat pun bisa diajak berkarya dalam kegiatan peternakan ayam dan seorang dengan keterbelakangan mental ringan sudah hampir bisa melakukan sendiri pertanian dan peternakan babi.
Penggunaan istilah yang dikenakan kepada orang-orang berkebutuhan khusus ini memang tidak memengaruhi tindakan dan sikap yang dilakukan Hephata kepada mereka, namun akan lebih baik jika tindakan yang tepat pun diiringi dengan istilah yang tepat. Terlebih pihak yang berkunjung ke Hephata dan memerhatikannya, sebagian besar masih awam akan hal pelayanan ini. Minimal dari penggunaan istilah yang tepat, “kaum awam” ini bisa melakukan tindakan yang tepat.